Pages

Saturday, July 14, 2007

Karimunjawa Day One: Keliling Desa

Perjalanan panjang selama 6 jam menyeberangi lautan dengan kapal Muria, tanpa tempat duduk, tentu saja membuat badan terasa pegal-pegal. Kalau capai berdiri, kami bisa duduk di lantai. Atau duduk di bangku di belakang kapal, tapi dengan resiko mabuk laut.


Perlahan-lahan, Pulau Karimunjawa mulai terlihat di kejauhan. Kecil, penuh bukit dan hutan. Warnanya didominasi warna hijau, dan dikelilingi oleh birunya laut dan langit, dengan sedikit hiasan awan putih.

Semakin mendekati Pulau Karimunjawa, Dhira, Sidqi, dan Manto yang sempat tertidur cukup lama karena takut mabuk mulai tampak segar. Walau di awal perjalanan cuaca mendung dan sempat turun hujan, namun rupanya cuaca cerahlah yang menyambut kedatangan kami di Karimunjawa. Satu jam sebelum sampai di dermaga, muncul beberapa lumba-lumba di sekitar kapal, berenang-renang seakan ingin menunjukkan arah dermaga. Persis seperti yang diceritakan Zen sebelum berangkat.

Dermaga Karimunjawa tidak terlalu besar. Dan sepertinya memang hanya digunakan untuk berlabuh kapal-kapal penyeberangan Karimunjawa - Jepara/Semarang saja. Kapal cepat Kartini dan kapal Muria yang kami naiki. Dari atas kapal, tampak lautnya bewarna biru jernih. Sedikit hijau. Masih dari atas kapal, karang-karang di dasar laut pun tampak.

Cerahnya cuaca dan jernihnya laut membuatku tak sabar untuk segera bermain di laut. Sayangnya itu tak ada di dalam agenda hari pertama. Sebaliknya, yang akan kami lakukan sepanjang sore hingga malam nanti adalah bersilaturahmi ke teman-teman baru yang akan membantu kami selama di Karimunjawa.

Dari dermaga, perjalanan dilanjutkan dengan mobil bak terbuka yang disewa seharga Rp 20.000,- untuk mengantar kami ke dermaga satunya, di ujung desa Karimunjawa yang jaraknya hanya sekitar 3 km dari dermaga utama. Dan dermaga utama adalah ujung lain dari desa Karimunjawa.

Di Syahbandar, begitulah mereka menyebut dermaga kecil tersebut, Mas Nurul dan Mas Ranto telah menunggu. Mereka berdua adalah petugas pelabuhan dari Dinas Perhubungan. Kami juga berkenalan dengan sosok Eva, yang bekerja di Tourism Information Center dan tinggal di Karimun Inn.

Setelah mandi dan beristirahat sejenak di rumah Mas Nurul, yang menjadi pondokan kami selama seminggu ke depan, kami melanjutkan agenda dengan berkeliling desa. Di desa Karimunjawa, tidak terdapat sebuah supermarket pun, tidak ada ATM, dan restoran. Sebuah Puskesmas, seorang dokter praktek, dan seorang bidan, bertanggung jawab mengurusi kesehatan warga Karimunjawa. Sisanya diisi dengan beberapa kios, sebuah pasar, sebuah bank, kantor-kantor milik negara, toko-toko souvenir yang hanya buka pada hari kapal berlabuh, dan rumah-rumah yang kadang merangkap sebagai guesthouse.



Untuk makan, ada beberapa tempat yang menjual berbagai makanan, tapi hanya ada satu yang paling eksis dan menjadi tempat bertemunya warga Karimun dan pendatang. Warung Bu Ester. Di warung inilah kami menyantap makan malam kami. Lauknya? Oseng-oseng sotong.

Di akhir hari, kami menyempatkan mampir di penginapan Mba Ika, pelatih selam yang nantinya akan menguji Dhira, dan membahas agenda esok harinya.

"Besok kita fin swimming dulu ke keramba," ujarnya.

Aku yang mengantuk pun hanya mendengarkan, dan menolak ketika diajak ikut ujian sekalian.

2 comments:

RonggoLawe said...

Mantap! Photonya keren....

RonggoLawe said...

Untuk satu hal, aku dendam...Mondar mandir lampung-bandung aku sering,hampir 2 kali tiap bulan, makan waktu and biaya yang kira2 hampir sama dengan ke karimun jawa...Tapi kesempatan gak pernah dateng. Giliran dateng, gak bisa juga. Emang keberuntunganmu ndo....

Gimana dg Semeru di Agustus?

Tetap ceria ndo..GBU!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...