Pages

Wednesday, April 21, 2010

Pasta Gio: Aksi Koki Kecil

Aku menemukan tempat pasta ini bersama Hera. Nama Pasta Gio memang sudah kudengar sejak sebelumnya, meski saat itu hanya sebatas "Pak Adzan buka warung pasta!". Dan aku penasaran.

Bagaimana tidak, setelah euforia Sapi Bali, setiap Pak Adzan buka warung, aku berusaha datang dan mencicipi, karena rasanya memang enak. Itulah kenapa aku ingin sekali datang ke Pasta Gio, tapi tidak tahu lokasinya.

Akhirnya, setelah beberapa lama memendam keinginan, bersama Hera aku meniatkan diri untuk mencari lokasi Pasta Gio, yang katanya agak tersembunyi.

Benar saja, di kegelapan malam, kami menajamkan mata untuk mencari petunjuk. Setelah belak-belok, akhirnya kami menemukan lampu Spiderman yang tergantung di muka sebuah gang kecil. Beloklah kami, meski belum yakin.

Tidak jauh dari muka gang, tampak warung pasta yang sebenar-benarnya warung. Pak Adzan dan Bu Eci menyulap garasi rumahnya menjadi warung, lengkap dengan open kitchen. Unik.

Yang lebih unik lagi, ternyata koki di Pasta Gio ini bukan Pak Adzan, tapi anaknya yang baru berumur 15 tahun. Namanya Gio. Mengerti kan sekarang kenapa warung ini dinamakan Pasta Gio?

Meski begitu, rasa menu-menu yang disajikan luar biasa. Rasanya tidak kalah dengan rasa western food yang disajikan di hotel-hotel. Bedanya, harga di Pasta Gio jauh lebih murah.

"Karena ini memang ajang belajar untuk Gio," ujar Bu Eci. "Dia kan memang hobinya masak."

Hm... rupanya keahlian memasak sang ayah turun langsung ke Gio. Pantas saja rasanya luar biasa.

Aku sudah sering kali ke sana dan mencicipi banyak masakannya. Dan tidak pernah bosan. Well, pernah sekali aku ke sana karena rakus dan tidak mampu menghabiskan makanan yang disajikan. Itu karena sebelumnya aku sudah makan pizza, minum milk shake, nyamil, dan sebagainya.

Selain hari itu, aku selalu mampu menghabiskan makanan yang sudah aku pesan di Pasta Gio, tanpa terpaksa.

Memang, hampir semuanya aku suka. Hanya saja, aku ternyata lebih suka dengan menu yang menggunakan krim. Lasagna, spaghetti, roast chicken, cordon bleu, hingga creamy spinach, semuanya enak. Sama sekali tidak ada rasa 'instan' di dalamnya.

Tapi yang pasti aku pesan kalau aku ke sana adalah Cream Soup (Rp 10.000,-) dan Bruchetta (Rp 20.000,-). Berbeda dengan sajian bruchetta di tempat lain, di sini bruchetta-nya tidak langsung dilapisi krim. Dibandingkan dengan rasa yang didapat, kedua harga tersebut bisa dibilang murah.

Pasta Gio bisa dibilang cocok untuk pelarian bagi penggemar western food. Menu spesialnya pun sering berganti sehingga tidak akan bosan.

Untuk dessert, ada dua pilihan: chocolate mousse atau chocolate cake. Keduanya juga enak. Sementara untuk minuman, Pasta Gio menyediakan minuman khas, yaitu Italian Soda yang disajikan dengan dua varian rasa: blueberry atau hazelnut. Kebanyakan teman yang ke sana bersamaku lebih menyukai hazelnut.

Aku tidak bisa menuliskan alamatnya, karena memang alamatnya tidak tertera di kartu namanya. Namun, bila kamu ingin ke sana, berikut ancer-ancernya:

Dari Jimbaran Resto, ambil arah menuju ke timur (Jl. Damai). Sampai di perempatan Sapi Bali, belok ke kanan. Yup, jalannya memang kecil. Lalu lurus terus hingga bertemu dengan Kantor Akuntan Kumala Hadi di kanan jalan. Pelan-pelan, karena di depan ada gang ke kiri. Terakhir ke sana, di muka gang masih tergantung lampu Spiderman. Bila sudah bertemu gang kecil tersebut, belok ke kiri.

Kamu ragu-ragu? Tak apa, itu berarti kamu sudah menemukan gang-nya.


PS: Warung Pasta Gio ini hanya buka dari jam 5 sore hingga jam 10 malam, karena Gio harus sekolah. :)

Photographed by: Hera


2 comments:

RonggoLawe said...

suka suasananya..homy :)

bulb-mode said...

Suka pastanya... enak! :p

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...