Pages

Wednesday, October 20, 2010

Lima Sekawan dan Petualangan Imajinasi


Aku ingat betul, Lima Sekawan karya Enid Blyton adalah buku tebal pertamaku kuperoleh pada saat kenaikan kelas tiga SD. Aku dan kakakku diajak ke toko buku Gramedia - yang saat itu masih memiliki kolam ikan di tengah tokonya - dan dibebaskan memilih buku apa saja yang kami suka sebagai hadiah naik kelas dari Tanteku.

Di antara rak-rak buku yang lebih tinggi dariku pada waktu itulah, pilihanku jatuh pada salah satu judul Lima Sekawan. Entah apa yang membuatku memilihnya dulu, tapi aku bersyukur pilihan buku pertamaku jatuh padanya.


Empat anak yang bertualang dengan anjingnya, menyelesaikan misteri-misteri yang mereka temui. Menariknya lagi, tanpa pengawasan orang tua. Sesuatu yang tak bisa dilakukan oleh kebanyakan anak-anak pada saat ini.

Selesai membaca bukunya, aku langsung jatuh cinta pada Lima Sekawan - yang bukunya saat itu masih seharga Rp 2.500,-, dengan nilai tukar dollar masih berkisar di Rp 2.500,-.

Sejak itu, hampir setiap bulan, aku langganan membeli buku Lima Sekawan. Aku dan kakakku. Tapi kemudian kakakku berhenti dan berpindah aliran pada komik-komik Jepang, sementara aku masih suka berburu buku Lima Sekawan.

Maklum, pada masa itu koleksi Lima Sekawan tidak selengkap aslinya jadi aku harus berburu. Meminjam, bertukar buku dengan sesama penggemar Lima Sekawan, hingga mencari di toko-toko buku di kotaku.

Buku Lima Sekawan seri pertama yang berjudul Di Pulau Harta Karun termasuk salah satu yang sulit ditemukan. Ketika aku sudah agak besar, tanpa sengaja kutemukan buku itu terselip di sebuah taman bacaan, dengan sampul yang hampir rusak. Senangnya bukan main. Saat itu, langsung saja aku meminjamnya, aku bahkan berpikir untuk menduplikatnya dan memasukkannya ke dalam koleksiku sebelum teringat bahwa uang jajanku tidak akan cukup untuk menduplikatnya.

Meski serial aslinya hanya terdiri dari 21 seri, buku Lima Sekawan diperbanyak serialnya oleh penulis Perancis, Claude Voilier. Tak jauh berbeda dengan serial aslinya, namun di buku yang ini tulisan berselang-seling dengan gambar komik.

Menyenangkan, karena aku jadi bisa lebih mengenal dan memvisualisasikan karakternya - walaupun karakter yang muncul di komik tampak sangat ...um, dewasa. Gadis-gadis modis dengan pria-pria tampan a la tahun 70'an dan satu anjing. Lentur, tinggi, dan langsing.

Lalu ketika pertama kali melihat dalam bentuk film, aku mengalami ekstasi. Terlebih karena pada waktu itu filmnya ditayangkan oleh TPI, yang mana penerimaannya di rumahku buruk sekali. Hitam-putih dan bergoyang-goyang, sering kali hilang. Aku hanya melihatnya sekali itu saja, sewaktu mereka berkunjung ke peternakan kupu-kupu.

Bagaimanapun juga, Julian, Dick, Anne, George (Georgina), serta Timmy menemani banyak khayalanku di masa kecil. Bahkan sindrom ingin-bergabung-dengan-Lima-Sekawan tersimpan hingga usia SMP. Dan kisah-kisah mereka masih aku baca hingga sekarang (kalau sempat!).

Petualangan mereka yang luar biasa, tapi sederhana, membuatku ingin menjadi seperti mereka. Berkeliling, bersepeda, berkuda, berkemah yang bukan acara Pramuka, berenang-renang di lautan lepas, serta menikmati piknik-piknik kecil dengan sandwich isi tomat, es limun, dan biskuit. Bahkan, aku sempat ingin punya kuda dan herder!

Gambaran tentang berkunjung ke sebuah peternakan di desa bersama sepupu-sepupu terdekat. lalu menyusuri bukit-bukitnya yang hijau dan lautnya yang tenang. Bertemu dengan orang-orang baru, menginap di tenda atau peternakan tanpa kehadiran orang tua... sebuah kebebasan dambaan anak-anak.

Lalu kenyamanan itu diikuti dengan sajian makanan lezat dari peternakan itu: telur hasil dari peternakan, susu dingin yang diperah langsung dari sapi-sapi peliharaan mereka, biskuit hangat dan roti langsung dari oven, metega dan madu yang juga diolah oleh mereka sendiri, tomat segar dari kebun, dan es limun jahe kesukaan mereka.

Argh! Menyenangkan sekali!

Bahkan tanpa tahu bentuk penyajiannya seperti apa, aku tetap dapat ikut merasakan nikmatnya. Ternyata, deretan makanan itu termasuk dalam salah satu kelebihan Lima Sekawan yang tetap diingat oleh banyak penggemarnya sampai sekarang.

Mereka memperkenalkan asyiknya bermain di luar rumah, asyiknya menyusuri puing-puing bersejarah, asyiknya perjalanan, asyiknya berpetualang, dan asyiknya makan - memunculkan aku dengan hobby saat ini.

Lima Sekawan terus berkembang. Hingga kini, dua juta kopi bukunya terjual setiap tahun. Karena populernya, oleh Disney, saat ini Lima Sekawan dibuat dalam versi animasi berjudul Famous 5: On the Case yang diputar di saluran Disney. Lebih lanjut lagi, kelima karakternya merupakan anak-anak dari Lima Sekawan yang asli.

Kisahnya...um, tak menarik. Terputus dari imajinasi masa kecilku. Tapi aku akan berusaha berpikiran terbuka dan menerima perubahan mereka: petualangan yang berbeda, peralatan yang berbeda, pakaian yang berbeda. Kalau tidak aku akan menjadi dinosaurus, seperti Monk - menurut Arya.

Bagaimanapun juga, Lima Sekawan berhasil mempengaruhi banyak sisi kehidupanku - hingga saat ini. Mereka memberiku keinginan untuk bertualang, bermimpi, menjelajah alam, serta menghargai teman seperjalanan dan tempat tujuanku. Oh ya, dan menghargai makanan di sepanjang perjalanan.

"Selalu ada yang baru dan menarik di luar sana. Tapi itu baru akan diketahui ketika telah sampai di tujuan.

Kata-kata itu selalu terngiang di dalam petualangan-petualanganku saat ini. Tak harus pergi ke ujung dunia, mendaki puncak tertinggi, atau menyelam ke lautan terdalam, karena petualangan bisa saja muncul di ujung jalan depan rumahku.

Anyway, bila memang buku masa kecil sebegitu berpengaruhnya pada kehidupan saat sudah dewasa seperti yang terjadi padaku, apa yang akan terjadi pada mereka yang sejak SD sudah disuguhi buku teenlit tentang romantisme anak-anak ya? :-S

4 comments:

wippie said...

hiks iyaaa..biskuit bundar diole mentega banyak-banyak...nyaaaammm...mallory towers yg aku paling suka dr enid blyton:D

bulb-mode said...

Iya, Wip! Yang selalu disajikan saat waktu minum teh! :p Pengen! Kalo mallory towers, aku juga baca, tapi nggak sebegitunya mengikuti. :p

Unknown said...

mallory towers, si badung, dan pastinya lima sekawan adalah benar2 bacaan yang melenakan di waktu itu. selain lupus yang made in Indonesia. sekarang sudah mahal sekali harga loakannya. di jembatan penyebrangan deket plasa semanggi aja, 5 buku mallory towers dihargai 110rb. wah...

bulb-mode said...

@ Leonie
Hihihi. Padahal dulu belinya Rp 2500,- satunya. Investasi tuh... :D Iya, dulu Enid Blyton banyak nulis buku yang cocok banget untuk anak-anak (bahkan sampai remaja), sekarang kok kayaknya agak-agak susah cari yang seperti itu untuk adik sepupu dan keponakanku ya... :( Atau aku yang nggak tau?

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...