Pages

Showing posts with label Tutur Kultur. Show all posts
Showing posts with label Tutur Kultur. Show all posts

Monday, May 2, 2016

Anak Cowok Nggak Boleh Nangis!


Beberapa hari yang lalu terdengar perdebatan antara orang tua mengenai baju yang seharusnya dikenakan oleh anak laki-lakinya. Sebagai seorang ibu dari seorang anak laki-laki, tentulah perkara ini menarik untukku. Bukan kepo, tapi kita bisa belajar dari mana saja, bukan? Termasuk dari pengalaman otang lain.

Nah, dari perdebatan masalah baju itu ada ketakutan bahwa anak laki-lakinya akan terlihat sedikit feminin dengan pakaian yang dikenakan. Terlepas dari pakaian apa itu, ketakutan orang tua ketika anak laki-lakinya tampak sedikit feminin membuatku terseret kembali ke beberapa tahun yang lalu ketika masih bergelut dengan teks-teks feminisme.

Tuesday, March 27, 2012

Komedi dan Kultur

Stand-up comedy (www.squidoo.com)
Komedi itu kultural. Maksudku, komedi itu (sangat) dipengaruhi oleh kultur dan latar belakang seseorang. Sama seperti masakan atau musik yang tergantung selera, begitu pula komedi.

Lalu kenapa tiba-tiba aku menulis tentang komedi?

Tuesday, August 2, 2011

"Kuliah di Mana?"

"Jurusan apa?"

"Kerja di mana?"

"Sudah menikah belum?"

"Agamanya apa?"

"Mau ke mana?"

Setahuku, pertanyaan-pertanyaan ringan tersebut kerap sukses membuat beberapa temanku kesal. Alasannya? Karena pertanyaan-pertanyaan itu seperti terlalu ingin tahu.

Tuesday, June 28, 2011

Tuk-tuk: Ambarita dan Tomok

Pemandangan dari perjalanan menuju Ambarita

Sejak awal, Tuk-tuk mengingatkanku pada Gili Trawangan, salah satu pulau dari Gili-Gili di Lombok. Jalanannya kecil dan tidak padat kendaraan, hotel-motel murah meriah tersebar di pinggiran daratan yang berbatasan dengan air, keterpencilannya dari kota, 'pantai'-nya, serta kehidupannya yang penuh dengan bule.

Tentu saja, sebagai pelengkapnya, berbagai bar dan pub buka di malam hari.

Thursday, June 23, 2011

Day 3: Pematang Siantar - Tuk-Tuk

Danau Toba dari jalan
Yeay! Hari ini kami meninggalkan Pematang Siantar, menuju ke Danau Toba. Di sana kami sudah memesan kamar di Pulau Samosir, atau tepatnya di Tuk-tuk.

Seperti yang telah kita ketahui, Danau Toba ini danau terbesar di Indonesia. Dan di tengah-tengahnya terdapat sebuah pulau bernama Pulau Samosir. Nah, Tuk-tuk itu terletak di salah satu ujung pulau yang berseberangan dengan kota Parapat.

Monday, June 13, 2011

Day 2: Acara Pernikahan di Pematang Siantar


Yayaya. Tujuan utamaku terbang hingga ke Sumatra Utara memang mengunjungi Atuk yang akan menikahkan anaknya.

Maka di hari kedua, aku mengikuti (sebanyak mungkin) acara pernikahan yang diadakan di rumah.

Tuesday, November 23, 2010

Krisis Jati Diri: Antara Perempuan dan Wanita


Whew! Ternyata selama ini aku salah.

Ini tentang masalah wanita dan perempuan yang sejak beberapa hari yang lalu berkeliaran di otakku. Kenapa banyak gerakan PEREMPUAN yang memilih kata perempuan daripada kata wanita? Memangnya ada apa dengan kata wanita?

Wednesday, August 12, 2009

Kain Tenun Bentenan: Harta Karun dari Minahasa

Mendengar kain bentenan, ingatanku melayang pada masa-masa aku mengumpulkan data untuk menulis tentang kain tenun. Kain asli Minahasa ini sempat hilang selama hampir 100 tahun, sebelum akhirnya mulai dilestarikan dan diproduksi kembali.

Di abad ketujuh, suku Minahasa sudah memproduksi busana. Mereka membuatnya dengan menggunakan bahan-bahan fuya dari serat kulit kayu pohon lahendong dan pohon sawukouw, serat nanas, koffo yang berarti serat pisang, serta wa'u yang berarti serat bambu.

Saturday, February 9, 2008

Kain Tenun Tradisional: Sakral dan Hampir Punah

Dulu, aku kurang begitu menghargai kain. Apalagi seninya. Benar kata orang, mungkin karena tak kenal maka aku tak begitu menghargainya.

Akhir-akhir ini, aku berinteraksi cukup lama dengan dunia kain tenun. Walau hanya sebatas interaksi literatur, namun ini cukup memberikan informasi yang bisa membuatku (cukup) mengenalnya. Dari sejarahnya, legendanya, caranya membuat, hingga fungsinya.

Tuesday, January 29, 2008

Reog Ponorogo: Legenda vs Politik

Alkisah, Raja Kelono Sewandono, raja yang amat kuat dari Kerajaan Ponorogo, bersama Patih Bujangganom (Pujangga Anom) dan balatentaranya melakukan perjalanan ke Kerajaan Kediri. Perjalanan berat melalui hutan dan perbukitan ini dilakukan Raja Kelono Sewandono untuk menikah dengan Dewi Ragil Kuning, putri dari Kerajaan Kediri.

Namun, tak disangka, rombongan Raja Sewandono diserang oleh Singabarong, raja singa di Hutan Kediri (atau Alas Ponorogo?), beserta pasukannya. Tak hanya singa, dalam pasukan Singabarong juga terdapat burung-burung merak.

Saturday, January 26, 2008

Orang Jawa yang Beruntung


"Kemarin pas mau ketemu klien, ban motorku ndadak bocor. Padahal udah ampir telat. Untung aja bocornya nggak jauh dari tukang tambal ban," ujar Tono.

"Lha aku kemarin kesel banget. Mobilku ditabrak motor dari belakang. Untung aja cuma penyok dikit," kata Wahid.

"Aduh! Komputerku kena virus! Wis jan.. untung wae aku udah punya back-up sebagian datanya," ucap Yati.

Wednesday, December 12, 2007

Menikah Sebelum Remaja? Duh...

Pertama kali aku mendengar tentang kisah pernikahan pra remaja adalah sewaktu aku masih duduk di SMP. Waktu itu, aku cukup kaget membayangkan ada anak seumuranku yang sudah punya anak. Sementara aku sendiri masih sibuk belajar membodohi sistem pramuka di sekolah.

Topik inilah yang kemudian aku jadikan sinopsis novel, syarat untuk mendaftar workshop yang diadakan oleh Yayasan Umar Kayam. Pernikahan pra remaja di suatu desa, yang aku belum tahu dimana dan seperti apa.

Wednesday, November 7, 2007

Diet vs Budaya Lokal


Ternyata melewatkan berbagai hidangan lezat tidaklah sesulit yang aku bayangkan. Tinggal menguatkan niat dan ketelatenan. Lagi pula, lama-kelamaan, kalau kita menjalaninya dengan niat yang tulus, nasi putih dengan lauk bongko dan telur rebus bisa membuat kita cukup puas juga.

Paling tidak, itu bukanlah hal tersulit untuk dilakukan.

Friday, October 19, 2007

Tambah Lagi, Please...

Bulan puasa diakhiri dengan perayaan hari raya Idul Fitri. Hari Kemenangan. Yang juga memiliki kutukan tersendiri untukku. Hari Raya Idul Fitri atau lebaran hampir selalu identik dengan manajemen makan yang berantakan.

Jadwal makan tak lagi sarapan, makan siang, dan makan malam. Atau sahur dan berbuka. Tapi menjadi sarapan, camilan, makan siang, camilan, jajan, makan malam, dan camilan. Walaupun sebenarnya ini bisa diakali dengan melaksanakan puasa Syawal. Tapi, masak melaksanakan puasa Syawal hanya karena alasan agar tidak melakukan manajemen makan yang salah?
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...