Pages

Sunday, July 12, 2009

Manado Day One: Demi WOC dan Bunaken


Setelah sempat transit dan menginap semalam di Bandara Cengkareng, dan lima jam perjalanan ke Manado, kami sampai di Bandara Sam Ratulangi. Cuaca cerah dan rombongan penjemput menyambut kedatangan kami.

Liburan... kami telah sampai!

Keluar dari bandara, aku mulai mengamati Manado. Jalanan yang tampak masih baru, dan besar, terbentang dari bandara hingga kota Manado. Dua jalur dengan aspal yang masih sangat mulus.

"Ini baru dibuat. Dalam rangka menyambut WOC," ujar sopir mobil jemputan kami.

Oh. Pantas. Taman yang menjadi pemisah jalur masih tampak belum selesai. Tanahnya kering dan belum ada tanaman yang ditanam. Dan setelah perjalanan selama sekitar 30 menit, kami pun memasuki kota.

Manado ternyata bukanlah seperti bayanganku. Kota ini termasuk kecil, dengan jalanan yang berbukit-bukit. Aku akan mencoba menggambarkannya dengan latar belakang lokasi kota-kota di sekitar tempat tinggalku. Manado mirip sekali dengan kota Magelang yang digabung dengan jalanan di Salatiga, dipadukan dengan hawa panas seperti di Semarang.

Tentulah, karena kota Manado adalah kota pinggir laut yang memiliki dua gunung. Jadi, konturnya berbukit-bukit dan hawanya panas. Serta lembab.

Melewati beberapa mall dipinggir pantai membuatku berpikir bahwa pembangunan kota ini tampak terburu-buru. Belum lagi melihat banyaknya hotel berbintang yang dibangun di kota ini. Kebanyakan di antaranya bahkan masih dalam tahap penyelesaian, atau baru saja dibuka.

Sepertinya semua serba terburu-buru, dalam rangka menyambut datangnya tamu-tamu WOC 2009. Tiga mall dan - paling tidak - lima hotel mewah.

"Dan nanti di tahun 2011 banyak yang sakit jiwa, Pak," ucap sopir tadi ke ayahku.

Oh. Kenapa?

"Ya hotel segini banyak siapa yang mau pakai?" tanyanya retoris.

Hm... benar juga. Belum lagi melihat ruko-ruko yang tampak terbengkalai dan tidak terisi. Salah salah satunya adalah Plaza Marina yang sepi dan tak berpenghuni. Yah, semoga saja rencana pemerintah dan WOC 2009 berhasil, dan itu membawa berkah bagi gejolak turisme Manado.

Setelah berbenah sejenak di hotel, kami langsung memulai petualangan kami di Manado.

Taman Laut Bunaken



Ketika berlibur, sistem 'save-the-best-for-last' tidak bisa diterapkan. Yang terbaik harus segera dilakukan sebelum cuaca, atau kesehatan, atau ada halangan. Apapun bisa terjadi, kan? Jadi, siang itu kami langsung berangkat untuk melihat Taman Laut Bunaken.

Perjalanan ke Bunaken memakan waktu sekitar 30 menit dengan boat dari pelabuhan. Di Taman Laut, dengan menggunakan katamaran (glass bottom boat). Dan, voila... keindahan taman laut terhampar.

Terumbu karang yang masih sehat tampak di sepanjang perjalanan, berwarna-warni. Dengan anemon-anemonnya yang menari-nari. Puluhan spesies hewan laut bermain-main di bawah kapal kami, bersandingan dengan drop wall yang indah sekaligus mencekam.

"Tingginya sampai sekitar 75 meter, Mbak," jelas Mas Guide.

Walau keindahannya tak bisa dibandingkan dengan menyelam sendiri langsung, tapi pemandangan yang ditawarkan katamaran cukup mencengangkan. Paling tidak bisa memberikan sedikit gambaran sebelum aku berenang sendiri.

Di bagian taman laut yang lain, kami diperbolehkan berenang sepuasnya. Tak ada waktu yang mengikat. Aku dan adikku pun langsung masuk ke air, sudah lengkap dengan fin dan masker pinjaman. Adikku memilih untuk berenang-renang di sekitar kapal, sementara aku lebih suka menyusuri drop wall sepanjang lebih dari 100 meter yang membentang di bawah kami.

Ketika arus semakin kuat, aku memutuskan untuk kembali ke area kapal. Aku tidak ingin terseret hingga kembali ke Pulau Sulawesi. Di area kapal ini, Mas Perenang yang memberiku arah saat berenang-renang mengajari cara menarik ikan-ikan itu agar mendekat ke kita.

Rahasianya: Remah-remah Biskuat!

Ternyata itu sebabnya saat kami akan berangkat, Mas Perenang menyarankanku untuk membeli beberapa bungkus Biskuat. Tadinya aku pikir agar aku mempunyai energi sebesar macan untuk berenang di laut.

Arus yang kuat rupanya membuat banyak cumi-cumi berbaris di bawah permukaan. Ini tidak begitu terlihat, tapi Mas Perenang membantuku dengan mengarahkan pandanganku saat menyelam-nyelam kecil. Mereka berbaris, melawan arus. Tapi kenapa tidak bergerak?

"Mungkin menunggu makanan terbawa arus langsung menuju mereka," ujar Mas Perenang.

Puas berenang-renang, kami pulang dengan jalur yang berbeda, melewati Pulau Selagit dan Pulau Manado Tua. Bentuknya seperti gunung yang muncul dari dalam laut.

"Dulunya, orang Manado berasal dari pulau itu. Mereka menyeberang, dan menemukan tanah yang lebih luas di Sulawesi, Manado," kata Mas Guide.

Kami sampai hotel saat matahari mulai menghilang. Cukup sudah untuk hari ini. Semoga besok tak kalah menarik.

2 comments:

lintang kemukus said...

kok biskuat?wahh km mengubah pola makannya ndo..gmn coba klo dia ketagihan?

bulb-mode said...

@ lintang kemukus:
Seingatku, banyak turis yang datang dan bawa biskuat kok, jadi mereka tak perlu khawatir... ;p

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...