Pages

Sunday, July 12, 2009

Manado Day Two: Dari Tarsius Ke Waruga


Selain Bunaken, rupanya Manado memiliki harta karun lain. Memang tidak seindah alam lautnya, tapi hanya dapat ditemui di Manado. Itu agenda kami di hari kedua.

Bitung:

Kota kecil ini merupakan kota industri. Tidak sehingar-bingar Manado, tapi tetap maju dengan pabrik-pabrik dan pelabuhan besarnya.

Sebuah margasatwa kecil didirikan di Bitung, sekitar satu jam perjalanan dari Manado. Mirip seperti kebun binatang, tempat ini merawat banyak dan beragam hewan.

"Kita cuma punya 53 hewan, sementara untuk jadi kebun binatang mini paling tidak ada 100 hewan," jelas Bapak Penjaga.

Dari puluhan hewan itu, Monyet Tarsius, hewan kebanggaan Sulawesi, menjadi primadona. Bentuk hewan ini lucu sekali, dan benar-benar hewan 'campuran'.

Ukurannya kecil, hanya segenggaman tangan. Wajahnya seperti burung hantu, kupingnya seperti kelelawar, ekornya seperti tikus, jari-jarinya mirip tokek, dan ia bisa memutar kepalanya hingga 180 derajat.

"Tapi belum bisa kami kembangbiakkan, karena hewan ini nocturnal. Seharusnya siang tidur, tapi karena banyak pengunjung, jd tidak bisa tidur," tambahnya. "Lagipula, tarsius hewan monogami. Kalau sampai yang satu mati, yang pasangannya bisa ikut mati."

Wow!


Waruga:


"Kita ke kuburan batu di Sawangan," ujar Pak Hari, sopir kami di Manado.

Terakhir kali aku mendengar tentang kuburan batu ini sewaktu aku masih duduk di bangku SMA. Tapi aku sama sekali tidak ingat apa isinya. Jadi, agenda mengunjungi Waruga membuatku bersemangat.

Terletak di Sawangan, Air Madidi, Minahasa Utara, sebanyak 144 waruga ditata dalam pemakaman batu yang dilengkapi dengan museum mini. Waruga-waruga ini dikumpulkan dari rumah-rumah penduduk di Minahasa pada tahun 1817. Kuburan yang berbentuk rumah kecil ini dibuat dari batu kali. Tingginya mencapai satu meter.

Setiap kuburan digunakan tidak hanya oleh satu orang, tapi satu keluarga. Orang yang telah meninggal, dimasukkan ke dalam batu dalam posisi meringkuk. Di bawahnya diberi alas piring, untuk menampung abu ketika tulang-tulangnya hancur. Batu ini ditutup dengan batu besar berbentuk atap rumah. Ketika ada yang meninggal lagi dan masih satu keluarga, mayatnya dimasukkan ke dalam batu yang sama.

Creepy...

Di batu yang menjadi penutup, terdapat pahatan-pahatan yang memberi petunjuk tentang mayat yang ada di dalamnya. Mulai dari jumlah yang dikubur, hingga pekerjaan yang mereka lakukan sewaktu masih hidup. Tak hanya orang Minahasa, di sini ada pula kuburan-kuburan batu milik orang Portugis, Spanyol, dan Jepang.

Pada tahun 1800-an, praktek penguburan dengan batu ini dihentikan oleh Portugis. Penyebabnya, muncul bau dan wabah korea dari sela-sela batu.


Merciful Building:

Tempat ini menyediakan berbagai oleh-oleh makanan khas Manado, dan Gorontalo - karena aku melihat beberapa makanan khas sana dijual di tempat itu. Selain menjual, di tempat ini juga beberapa makanan khas tadi dibuat. Bahkan bisa dilihat langsung.

Hebatnya lagi, Merciful Building buka 24 jam dan menyediakan layanan antar ke hotel setelah barang belanjaan mereka bungkus dengan rapi.

3 comments:

lintang kemukus said...

Wew tarsius setia ya.km nggak coba nggoda dia, ngetest siapa tau trnyata bisa selingkuh jg...

afni rustam said...

Tarsis a.k.a Tangkasi.. aku yang lahir besar di Manado pun belum berkesempatan liat binatang nocturnal ini... ^^

-salam kenal-

bulb-mode said...

@ afni rustam:
Lokasinya agak jauh dari Manado sih, tapi disempetin liat aja...mumpung masih ada hewannya... :)

Salam kenal juga...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...