Pages

Wednesday, August 12, 2009

Kain Tenun Bentenan: Harta Karun dari Minahasa

Mendengar kain bentenan, ingatanku melayang pada masa-masa aku mengumpulkan data untuk menulis tentang kain tenun. Kain asli Minahasa ini sempat hilang selama hampir 100 tahun, sebelum akhirnya mulai dilestarikan dan diproduksi kembali.

Di abad ketujuh, suku Minahasa sudah memproduksi busana. Mereka membuatnya dengan menggunakan bahan-bahan fuya dari serat kulit kayu pohon lahendong dan pohon sawukouw, serat nanas, koffo yang berarti serat pisang, serta wa'u yang berarti serat bambu.

Kain bentenan termasuk salah satunya. Diproduksi dengan menggunakan serat kayu, kain bentenan saat itu merupakan kain yang sangat tinggi mutunya. Tidak hanya bagi suku Minahasa, namun juga di dunia. Teknik pembuatannya memang berbeda. Disebut Pasalongan Rinegetan, kain bentenan dibuat membentuk lingkaran tanpa guntingan atau sambungan kain dan di sekeliling kain menggunakan lonceng kecil.

Pembuatannya pun tidak instan. Sebelum menenun, ada ritual yang harus dijalankan. Lagu Ruata yang isinya adalah permintaan atau doa kepada Tuhan untuk membantu menjadikan tenunan ini dinyanyikan. Seperti batik dan kain tradisional lainnya, motif yang dibuat memang mengandung maknanya sendiri-sendiri.

Sekitar abad 15, suku Minahasa mulai menenun dengan benang katun. Ini merupakan perkembangan dari kain bentenan yang menggunakan serat kayu. Masuknya pengaruh barat mengakibatkan kain tenun bentenan mulai terpinggirkan. Memang, pembuatannya cenderung kalah praktis dibandingkan dengan kain-kain dari barat. Menurut penelitian, kain ini terakhir kali diproduksi pada tahun 1880 oleh kalangan Minahasa yang tinggal di daerah pesisir selatan Minahasa.

Kain tenun Bentenan asli, yang terbuat dari serat kulit kayu, di dunia ini hanya tersisa 28 lembar. Sebagian besar berada di Jerman dan Belanda. Sedangkan di Indonesia hanya tersisa dua lembar yang disimpan di Museum Nasional Jakarta.

Setelah lebih dari 100 tahun, kain bentenan muncul kembali. Kini kain tersebut telah berhasil ditenun di desa Kolongan Atas, Sonder, Sulawesi Utara oleh para pemuda-pemudi desa tersebut atas prakasa Yayasan Karema.

Untuk melestarikan, kain Bentenan dikenakan oleh masyarakat Sulawesi Utara sebagai pakaian wajib bagi pegawai negeri sipil. Namun, tentu saja dengan bahan berbeda. Kini motif kain tenun bantenan dibuat cap, dan dijadikan motif pada lembaran-lembaran kain yang sudah jadi.

Meski begitu, kain yang merupakan hasil tenun manual juga tetap ada. Harganya cukup tinggi karena pembuatannya membutuhkan ketrampilan khusus dan memakan waktu hingga berbulan-bulan.

"Tergantung rumit atau tidaknya," ujar Mbak Penenun.

Hm... seperti jawabanku kalau ada yang mau memesan baju.

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...