Pages

Tuesday, September 7, 2010

Ke Museum, Yok...?


"Nggak mau ah..." jawab banyak orang, termasuk anak-anak kecil itu, membuat bingung akan mengajak ke mana lagi.

Padahal, sewaktu kecil dulu aku suka sekali diajak ke museum. Museum hewan, terutama. Karena beberapa tahun dari masa kecilku berada di luar negeri, maka kesukaanku untuk datang ke museum terpuaskan.


Aku ingat, dulu aku paling suka diajak ke museum dinosaurus, yang entah bernama apa itu. Bukannya seperti sekarang, perginya hanya ke mall atau pusat perbelanjaan saja.

Di museum itu, aku bisa berkeliling dari ruangan ke ruangan melihat beraneka kerangka dinosaurus, meski aku bukan dino-freak yang hafal setiap nama dinosaurus. Aku suka datang ke sana karena aku jadi bisa membayangkan seperti apa dinosaurus itu. Bonusnya, setiap pulang dari museum itu, aku selalu dibelikan boneka dinosaurus.

Tapi, begitu kembali ke negara tercinta ini, harapanku pada museum hancur lebur. Kenapa? Karena kebanyakan museum ini suram dan berdebu. Juga cara mereka memajang barang-barang koleksinya terkesan sembarangan. Sangat tidak menarik.

Kecuali Museum Ullen Sentalu, yang dikelola oleh pihak swasta.

Berbicara tentang museum, menurutku, masalah yang dihadapi museum di negara kita memang pelik. Tak ada pengunjung, tak ada dana, tak dapat berbuat apa-apa.

Museum seharusnya menjadi wahana untuk memuaskan rasa ingin tahu, menambah pengetahuan, sekaligus wahana rekreasi keluarga. Bukankah begitu?

Lalu kenapa pemerintah tidak berinvestasi untuk itu?

Museum seharusnya bisa berbuat lebih dari sekedar memajang koleksinya begitu saja dan menyiapkan penjaga a la kadarnya.

Berbeda dengan masa lalu di mana dunia belum terhubung dengan sangat erat seperti saat ini, orang-orang di Eropa akan berduyun-duyun datang ke museum untuk melihat katak terkecil atau hewan-hewan tropis di belahan dunia lainnya karena rasa penasaran. Pada saat itu, museum bisa menjual rasa penasaran dan ilmu semacam itu.

Tapi kalau sekarang, rasa penasaran dapat diatasi dengan bertanya pada Om Gugel dan album fotonya. Kalau ingin tahu lebih lanjut? Tak perlu membacanya di catatan keterangan di museum yang suram, kita bisa tinggal klik wikipedia.com.

Alhasil, museum harus bersaing dengan sebegitu banyaknya media informasi yang canggih, lebih up-to-date, dan praktis.

Itulah kenapa menurutku museum harus sadar diri dan menggeser fungsi utamanya menjadi wahana rekreasi, memberikan sesuatu yang hanya bisa didapatkan jika kita datang sendiri ke sana. Sementara, ilmu dan rasa penasaran menjadi pelengkap saja. Jangan bergantung hanya pada kelengkapan koleksi.

Kalau sudah begitu, kenyamanan pelanggan, interaksi dalam wahana, hingga pelayanan museum harus diubah.

Oh ya, jangan lupa penerangan yang sesuai dan cleaning service yang gesit, serta toko souvenir. Kenyataannya, orang memang suka berbelanja dan menyimpan kenangan.

Kalau bisa seperti itu, harga tiket masuk yang agak mahal pun tidak mengapa, asalkan sebanding dengan kepuasan yang didapatkan. Jangan sebaliknya.

Inilah kenapa pengelola museum (yang kebanyakan pemerintah) seharusnya tidak hanya menyandarkan barang-barang koleksinya di dalam rak, menempatkan satu-dua penjaga museum, dan membuka museumnya begitu saja.

Opini ini, menurutku juga berlaku untuk segala macam situs bersejarah yang kalau aku lihat saat ini hanya dikelola pemerintah dengan mengandalkan 'kesejarahan'-nya. Begitu juga dengan kebun binatang-kebun binatang yang hanya terkesan hanya mengurung hewan di kandang. 


Ayolah! Aku butuh tempat rekreasi lain selain mall dan bioskop nih... masa iya ke candi lagi?

"Ke candi? Ngapain? Cuma lihat batu aja..." ujar anak-anak kecil tadi.

Tuh, 'kan? Ada benarnya apa yang mereka katakan...



* Foto diambil dari sini.

2 comments:

ratih-rhe said...

Sudah pernah ke museum House of Sampoerna (HoS) - museum sejarah berdirinya salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia - di Surabaya? Kamu pasti suka! Sangat bersih, cantik, penerangan pas, koleksi unik, guide yg ramah, helpful dan informatif.

Di sini kamu juga bisa praktek langsung melinting rokok layaknya buruh linting. Sebagai pelengkap, ada juga kios souvenir. Di sebelah bangunan museum ada bangunan art gallery dan cafe. Kalau sempat, mampirlah ke cafe dan coba menu sop buntut gorengnya. Luar biasa! ;)

Beberapa bulan lalu, HoS meluncurkan program Sampoerna Heritage Track. Ada shuttle bus yg bisa mengantarkan pengunjung berkeliling objek wisata sejarah di sekitar HoS.

Museum HoS tidak menarik biaya untuk setiap pengunjungnya. Untuk SHT, aku kurang tahu.

Todonglah Arya untuk mengajakmu ke sana.. ;)

bulb-mode said...

Halo Ratih! Belum pernah ke sana. Tapi emang denger-denger katanya tempatnya asyik ya... :) Sayangnya tiap ke Surabaya, waktunya nggak pernah lama.

Arya pernah (berkeinginan) ngajak ke sana. Tapi sebatas keinginan aja. Hehe! Dia ajak aku ke tempat kuliner seru aja jarang. Lontong balap aja nggak dikenalin. :p

*curcol*

Nanti kalau ke sana lagi deh, aku todong untuk sempetin ke HoS, ama SHT... :D

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...