Pages

Thursday, February 7, 2008

Blast from the Past: Sido Semi Kotagede

Serasa kembali ke masa lalu.

Itulah yang aku rasakan saat melihat dari luar warung es yang sudah tersebar kedahsyatannya. Hanya melihat dari luar. Dan saat emasukinya, aku semakin terseret ke masa lalu.

Oh... oh...

Meja dan kursi kayu yang sederhana tertata secara konvensional. Daftar menu tua yang tergantung di sebelah pintu seakan menjadi penanda tuanya tempat ini. Waktu seakan terhenti saat 'es' masih dituliskan dengan 'ys'. Dan saat harga masih dalam bulatan satuan rupiah.

Lalu ada papan-papan pengumuman yang ditulis dalam aksara Jawa. Kipas-kipas anyaman bambu yang disediakan di tiap meja bagi yang membutuhkan hembusan angin. Belum lagi deretan botol antik berisi sarsaparila merk Liy Hwa, yang tak boleh dibeli bersama botolnya.
Benar-benar jaman dulu.

Ya itulah Warung Sido Semi yang terletak di tengah-tengah Kotagede. Tepatnya
di Jl. Watu Canteng no 2, Kotagede. Telah malang melintang di dunia kuliner sejak tahun 1957, warung ini sepertinya tidak mengalami perubahan fisik yang mencolok. Masih sederhana.

Panasnya hari siang itu telah membawaku mengunjungi Sido Semi dengan keinginan berlebih untuk menyeruput es yang segar. Setelah sedikit bingung, atas anjuran seorang teman, aku pun memesan es kacang hijau. Katanya, es ini salah satu menu khas di Sido Semi.

Ini bukan bubur kacang hijau seperti biasanya. Es kacang hijau justru mirip es dawet, dengan santan dan sedikit juruh (gula jawa). Namun isinya dipenuhi kacang hijau dan ketan putih.

Disajikan dalam mangkok, es ini diberi banyak es serut. Mengingatkanku pada es campur, atau es teler.

Seperti bangunan fisik warungnya, rasa es kacang hijau ini juga sederhana. Tapi justru karena kesederhanaannya itu, tak terasa zat 'artifisial' di sela-sela indera perasaku. Rasa gurih dari santan, manis dari gula jawa, bercampur dengan rasa asli kacang hijau dan ketan putih.

Kurang puas hanya dengan semangkuk es kacang hijau, aku pun memesan es limun. Sebenarnya aku memesan ini karena kata 'limun'-nya. Sejak membaca kata limun pertama kali di buku-buku petualangan Lima Sekawan, aku masih saja penasaran seperti apa rasa 'limun' itu.

Es limun yang ditawarkan Warung Sido Semi rupanya soda dengan rasa sarsaparila yang disajikan di gelas dengan es batu besar-besar. Soda sarsaparilanya berasal dari botol-botol antik dengan desain tulisan Liy Hwa yang memberikan aksen 'tua-sekali'.

Rasanya pas, tidak terlalu manis. Seperti permen Sarsaparila yang pernah terkenal sekali pada masa aku SMP. Menyegarkan!

Selain dua pesananku itu, masih banyak menu lain yang sebenarnya menarik untuk dicoba. Ada es tape, es buah, es sirup, hingga bakso. Dan harganya amat sangat murah. Hanya sekitar Rp 2.500,- untuk es, dan Rp 4.000,- untuk bakso.

Benar-benar tempat yang pelarian yang tepat dari panasnya sengatan matahari.


PS: Makasi buat fotonya ya... :)

3 comments:

Anonymous said...

makasih yow ndieeee...
da dibawain es nyah,
uenakk

dhiraestria dyah said...

aku udah pernah ke sana ndie, emang jadul bgt..
hmmm.. jd pengen bakso ama es kacang ijo-nya.. nyam..

bulb-mode said...

ogi:
Sama-sama, Gi... maap udah menambah bercak-bercak motif di taplak mejamu... huehehe! :p

dhiraestria dyah:
Di Aceh nggak ada lho, Dhir... :p

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...