Pages

Tuesday, February 26, 2008

Ketela Itu Enak

Ya. Aku tahu itu. Ketela memang enak. Digoreng atau direbus, semuanya enak. Tapi, tetap, ketela favoritku haruslah direbus dahulu sebelum digoreng.

Itu akan memberikan kerenyahan di permukaan dan tekstur empuk di dalamnya. Ditemani teh hangat (yang gulanya sedikit saja), aku bisa menghabiskan sepiring ketela. Cukup untuk makan malamku.

Tak dipungkiri, ketela identik dengan camilan 'ndeso'. Walaupun varian sajiannya banyak, tetap ketela menjadi kudapan 'murah'. Thiwul dan gethuk yang biasa terdapat di desa, contohnya.

Namun beberapa tahun yang lalu, beberapa penggemar ketela berhasil memberikan kontribusi besar bagi dunia ketela. Sajiannya diubah. Digoreng batangan dan diberi taburan bubuk perasa, berharap bisa menyaingi kepopuleran kentang.

Dan memang berhasil.

Ketela dengan berbagai taburan rasa menjadi kudapan populer. Seiring waktu, produk berbahan ketela pun terus berinovasi. Dari sekedar balok, kini ketela telah bisa dinikmati dalam bentuk nugget ketela dan ketela lapis.

Unik, karena ketela ini dilapisi oleh berbagai rasa. Tinggal pilih: coklat, vanilla, lemon, atau stoberi?

Fenomena ketela ini mungkin menarik untuk diberitakan. Karenanya aku pun mendapat tugas menulis tentang beberapa hasil kreasi ketela ini. Tentu saja dengan mengunjungi para pemilik usaha ketela itu.

"Dicicipi, Mbak. Ini ketela buatan kami," tawar Pemilik Usaha I.

Lapar. Maka aku ambil satu potong. Satu saja. Tapi ternyata berlanjut, bagaikan memakan kacang goreng. Un-stop-able.

"Enak?" tanyanya (tanpa nada sinis!).

Pastilah ia sudah tahu jawabanku. Terlihat dari tanganku yang terus sibuk di antara pulpen, kertas, dan piring berisi potongan ketela.

Hari pertama, aku pun mendapat 'oleh-oleh' dua bungkus ketela goreng yang langsung aku habiskan kurang dari dua jam.

Hari esoknya, aku kembali ke tempat itu untuk mengambil beberapa foto produksi. Aku juga membeli beberapa sampel produk beserta kemasannya untuk aku foto di rumah. Lagi-lagi properti itu berpindah tempat dengan sukses ke perutku setelah sesi pemotretan selesai.

Dan hari setelahnya, aku mengunjungi tempat usaha yang kedua. Jadwal hari itu wawancara sekaligus memotret, jadi aku tidak perlu kembali ke sana lagi.

"Ini rasa balado, kesukaan saya," ucap Pemilik Usaha II ketika menyuguhkan ketela produk mereka. "Sambil dicicipi ya, Mbak."

Tawaran yang tepat waktu. Hawa yang dingin perpaduan antara AC dan hujan di luar menjadikan ketela goreng yang hangat itu tampak sangat-sangat-sangat menggiurkan.

Tanganku pun mulai sibuk lagi di antara ketiga benda, seperti beberapa hari sebelumnya. Renyah. Empuk. Gurih. Pedas. Lezat. Separuh piring pun berpindah ke perutku.

Ketika pulang, Pemilik Usaha II memberiku tiga bungkus ketela lapis dan satu bungkus ketela goreng. 'Sampel produk' yang harus dipotret. Sedikit berlebihan memang, tapi tidak mungkin aku tolak.

Sekali lagi, selesai memotret, sampel-sampel produk tadi habis aku makan. Awalnya, semua terasa benar-benar enak. Tapi, di bungkus terakhir, semua kelezatan ketela menghilang. Digantikan rasa eneg.

Tiga hari penuh ketela mungkin sudah cukup untuk mencapai kepuasan maksimumku akan ketela, ya? Wajar bila kurva pun bergerak turun dengan cepat.

Tiga hari penuh ketela... dan sekarang, sementara ini, aku memilih untuk sedikit memberi jarak antara aku dan ketela.

6 comments:

dhiraestria dyah said...

aku juga suka ndie, tapi nggak digoreng, soalnya nggak cocok untuk diet-ku :p
aku lebih suka dikukus pake garem dikit trus makannya pake gula jawa.. nyam..
btw, ketela yang kamu cerotain itu di mana? jadi pengen nyoba...

bulb-mode said...

dhiraestria dyah:
Ketela yang mana Dhir? Yang Tela Lapis itu punya Tela Krezz, dan yang Nugget Tela itu punya Tela-Tela. :D Aku juga suka ketela a la Thailand yang aku nggak tau namanya itu... :p

Anonymous said...

Eh di mana tuh yang jualan Ndi??
Ketela Thailand?? Maksudmu yang direbus sama gula putih trus dikasi saus santen ya?? Aku juga suka Ndi. Baisanya suka maemm itu diresto jepang apa thailand. Namanya aku juga ga tau:))

bulb-mode said...

thea:
Banyak, The, yang jual... kios-kios kecil di pinggir jalan, ada yang warna merah, ada yang warna ijo, ada yang warna kuning... :p Ntar klo pas ke Jogja, cari" aja di sepanjang jalan...

Iya, ketela Thailand yang itu! :D Aku suka sekali...!

Anonymous said...

keliatannya enakkkk...
pengen, kapan2 kl lewat kantor, aku bawain ya ndie :D

bulb-mode said...

ogi:
Emang enak... asal makannya dalam kuantitas yang sewajarnya... :-S Hah... besok" klo pas aku ke tempatmu aku bawain. Klo aku inget. :p

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...