
Aku ingat sekali dia sempat membuat band beraliran 'Blink 182' di era SMP-SMA-nya. Manggung dari SMA ke SMA. Sering muncul di scene musik di Jogja.
Lalu dia menghilang dari musik. Alasannya, bandnya sudah tidak sealiran musik lagi.
Ia pun merambah ke dunia tulis menulis. Menulis di sini, di sana, majalah, web, tapi tidak di blog. Atau dia tidak memberitahuku alamat blognya? Hm...

Akhirnya aku menonton Laskar Pelangi. Dan banyak sekali yang ingin aku katakan. Aku kesal, karena film yang sebenarnya punya kekuatan ini disajikan dengan kualitas yang mengecewakan.
Intinya, aku kesal.
Kuakui, aku menonton Laskar Pelangi karena terseret oleh popularitas bukunya - yang belum pernah aku baca. Karena itu, aku ingin berceloteh hanya tentang film Laskar Pelangi, aku tidak berani berpendapat tentang bukunya.
Lagipula, seharusnya aku bisa puas dengan suatu film tanpa harus membaca sebuah buku terlebih dahulu, bukan?

Akhirnya lebaran tiba juga.
Dimulai dengan takbir, berlanjut sholat ied di keesokan harinya, lalu sungkem, dan kemudian menyantap opor ayam-sambal goreng-ketupat bersama keluarga besar.
Ritual lebaran yang belum tergantikan.
Selamat hari raya Idul Fitri... mohon maaf lahir dan batin ya...!
Begitulah. Semoga singkatnya kata tidak mengurangi makna yang ada. Terutama di tengah gegap gempita perayaan kemenangan, seperti kata temanku. :)

Dan aku kembali memasak. Inilah resep yang aku pilih untuk berbuka puasa. Sederhana, mudah, cepat, tapi (lumayan) enak. :p

Aku sekarang tahu kenapa setiap mengundang makan tamu ke rumah, ibuku lebih suka memasak semuanya sendiri. Dibantu oleh pembantu dan anak-anaknya, tentu saja.
Dulu, aku pikir itu adalah kegiatan yang amat tidak praktis. Belum tentu lebih murah, jelas lebih merepotkan, melelahkan, membutuhkan waktu yang lebih lama, dan mungkin sekali masakannya gagal.
Tapi ternyata, di luar semua itu, memasak memunculkan kepuasan yang mengalahkan rasa lelah. Menyenangkan sekali ketika bisa merasa menjadi bagian dari masakan itu sendiri.