Pages

Saturday, May 1, 2010

Those Unspoken Moments


Sebenarnya aku ingin sekali bisa menulis untukmu, seperti aku menulis untuk mereka. Tapi biasanya, kalimat-kalimatku terhenti pada paragraf-paragraf awal.

Bukan aku tidak ingin melakukannya. Hanya, seringkali aku memang tidak bisa menuliskannya. Aku sadar bahwa semua yang ingin aku katakan, dengan mudah bisa aku katakan.

Kalau aku kangen dan ingin bertemu, aku tak perlu mencari-cari alasan, lalu mengajakmu mencari jus di siang hari yang panas. Atau kalau aku kangen, aku tak perlu mengutarakan isi hatiku dengan ambigu melalui sebuah tulisan di dalam blog yang entah ditujukan pada siapa.

Aku hanya perlu meneleponmu dan berkata, "Kita ke Amplaz yuk... Aku kangen..."

Atau sekedar pesan singkat berisi, "Kangen kamu..."

Begitu lugas, begitu sederhana, dan kamu pun tak perlu kesulitan menebak-nebak maksudku.

Bukankah seperti itu hubungan yang ingin kita jalani? Tak perlu ada rasa gengsi (meski kuakui, sesekali gengsi itu penting), tak perlu berlagak misterius (meski kejutan itu menyenangkan), tak perlu memendam perasaan. Aku juga tak perlu sok kuat dan mau membonceng motor hingga ke ujung timur propinsi tercinta.

Aku cukup menjadi diriku, dan kamu cukup menjadi dirimu seperti yang aku kenal. Dan aku merasa kamu akan menerimaku apa adanya.

Kadang terasa egois ya?

Aku tahu, tapi aku lebih suka yang seperti ini. Karena hubungan ini (seharusnya) akan berlangsung lama sekali. Aku akan belajar, tapi alangkah baiknya kalau kamu bisa menerima keburukanku.

Bukankah dari awal semua keburukanku sudah tampak jelas? Semoga kamu mengerti maksudku.

You can not say that you love someone when you're only in love with her lovable parts. You have to love the unlovable part, also.

Begitu pula dengan diriku. That's why I chose to wait for a while until I could say "I love you".

Lalu setelah semua kata itu tersampaikan dengan cepat, setelah semua perasaan terucapkan, setelah semua permasalahan diungkap atas nama mencari solusi, aku merasa seperti buku yang terbuka.

Kamu tak perlu bersusah payah, karena semua perasaan terbaca dengan mudah.

And when there's no words left unspoken, what can I write for you?

Itulah perbedaan kamu dengan mereka. Aku tidak perlu menahan beberapa kata hanya untuk menciptakan momen-momen dan menuliskannya dalam duniaku. Aku lebih memilih untuk menjagamu agar selalu ada di duniaku.


PS: Tapi terkadang aku merindukan those unspoken moments...

2 comments:

Anonymous said...

ngga lebih baik sangu game di komputer ya? :)

bulb-mode said...

Hm..sepertinya salah komen posting ya? Eniwei, pakai game beresiko ketauan lebih besar, kecuali yakin ngga akan ada orang yang lewat di belakang kita.. Sayangnya, lalu lintas pegawai di belakangku cukup padat.. :p

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...