Pages

Friday, January 14, 2011

Banjar: Ayo Berangkat!

Sudah kuputuskan, berhasil atau tidak foto-foto dari Banjar itu dikembalikan, aku akan menulis tentang Banjar. Tadi sih, Hera sudah memberitahu bahwa 121 foto berhasil dikembalikan. Yeay!

Tapi aku belum lihat hasilnya, dan belum tahu apakah akan ada yang cocok untuk ilustrasi tulisanku.


Anyway, cerita tentang Banjar harus dimulai dengan pertanyaan: tahukah kamu bahwa Banjar di Jawa itu ada banyak?

Kalau Hera bilang rumahnya ada di Banjar, itu berarti memang di Banjar. Bukan Banjarnegara. Bukan Banjarsari.

Banjar Patroman di Jawa Barat.

Informasi ini baru aku cerna baik-baik di perjalanan. Bahkan semua orang di rumah yang kupamiti, taunya aku akan ke Banjarnegara. Pantas juga aku sempat ngotot-ngototan dengan temanku, berdebat bahwa Banjarnegara dan Pangandaran itu lebih dari tiga jam perjalanan.

Baiklah. Aku mengaku salah.

Perjalanan ini merupakan alternatif kegiatan tahun baruan kami: aku, Hera, Alam, dan Apo. Daripada berdesak-desakan di kota, atau menghabiskan waktu dan uang di salah satu resto sambil menonton acara mereka, kami memilih untuk melarikan diri ke Banjar, ke rumah Hera.

Rencana berangkat jam 4 mundur tiga jam. Tidak masalah sebenarnya, karena kita pun tak ada jadwal yang harus dikejar. Kami juga pasrah apabila akhirnya merayakan tahun baru di perjalanan, karena katanya Hera membeli empat terompet, yang salah satunya khusus untuk Alam.

Eh. Tapi ternyata tidak.

Akhirnya kami pun memulai perjalanan selama tujuh jam itu tanpa harapan apapun. Kecuali, sop enak yang akan kami temui di tengah perjalanan yang katanya Hera buka 24 jam. Lengkap dengan sate ambalnya.

Di tengah hiruk-pikuk tawa, kami menyempatkan diri mampir di lapak durian di pinggir jalan dan menikmati durian-durian yang menggoda. Lalu melanjutkan perjalanan.

Sekitar pukul 11.00 malam, warung Asli yang kutunggu-tunggu tampak di sebelah kiri jalan. Kami pun parkir untuk mencicipi sop andalan Hera ini. Alamat tepatnya di Jl. Raya No. 126, Kutowinangun.


Begitu masuk, kami langsung terpukau oleh TV plasma besar (di atas 32 inci) yang tergantung di dindingnya. Sedikit agak terlalu besar untuk ukuran luas ruangannya Padahal bangunan dan tatanan warungnya sangat sederhana. Aku langsung berpikir pastilah warung ini sangat sukses.

Sop yang dijual merupakan sop ayam (ingat, Hera, ini sop ayam, bukan sop sapi), yang juga sederhana. Tapi rasanya enak, entah karena perutku yang keroncongan setelah tiga jam perjalanan atau memang enak. Rasanya, kalau di Jogja, lebih mirip ke arah soto.

Sambalnya, pedas. Dan aku hanya memakai setetes karena aku memang tidak begitu akrab dengan pedas. Untuk teman makan sop, kami juga memesan satu porsi sate dari salah satu penjual sate ambal yang berjejeran di muka warung tersebut.

Daging ayamnya manis karena direndam terlebih dahulu di bumbu khusus sebelum dibakar. Sementara, bumbunya terbuat bukan dari kacang, tapi dari tempe. Enak sih, awalnya. Tapi kalau terlalu banyak, bisa eneg. Padahal, satu porsi sate ayamnya berjumlah 20 tusuk.

Wah! Untung saja Hera hanya memesan satu porsi.

Harga camilan malam kami ini tidak terlalu mahal. Untuk sop hanya sekitar Rp 5.000,- per mangkok, sudah pakai nasi, dan untuk satu porsi sate ambal harganya sekitar Rp 16.000,-.




Sebelum melanjutkan perjalanan, Hera menyempatkan diri untuk membeli terompet sebagai cara dia untuk menyembuhkan rasa bersalah karena telah 'membohongi' kami.

Yah, begitulah. Akhirnya kami bertahun baru di jalan. Meniup-niup terompet bersuara sapi di dalam mobil. Tak ada yang berani membuka jendela dan meniupkan terompet keluar, karena suara terompetnya memang sungguh memalukan.



* Foto oleh Alam.

4 comments:

Anonymous said...

Yea you're so rite..."camilan kita malam itu"...menggunakan nasi...dan lontong....dan sop...
dan terompet pembohong.....ahahahhahaha...dan atlas di Gramedia yang mungkin akan kujadikan kado pernkahanmu kelak... :D

bulb-mode said...

Awal dari rentetan kuliner yang memabukkan... :p Terompet pembohong... yang berujung pada bencana CF... argh!

Anonymous said...

kisah galaxy ku blum selesai

bulb-mode said...

Mari kudengarkan tanpa interupsi...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...