Pages

Monday, April 7, 2008

Durian-Durian Itu...

Lahir, besar, dan hidup di negara tropis, tentulah aku telah mengenal buah bernama durian sejak kecil. Buah dengan kulit penuh duri dan aroma dagingnya yang, um... unik. Durian juga telah menjadi salah satu buah kesukaan dalam keluarga besar kami.

Tante, Om, Budhe, Pakdhe, hingga keluarga intiku sendiri. Termasuk aku.

Durian memang eksotik. Seingatku dulu, durian adalah makanan yang cukup istimewa bagi keluargaku. Mungkin karena kami tidak dapat menikmati durian setiap saat. Paling tidak, kami harus menunggu sampai musimnya datang. Tak heran, tiap musim durian akhirnya datang, kami hampir selalu 'merayakannya'.

Tidak. Kami tidak lantas mengadakan pesta, memasang lampion, dan meniup terompet-terompet kegembiraan. Kami merayakannya dengan sederhana.

Sekeluarga, berkeliling kota di malam hari, dan menikmati durian di pinggir jalan. Kami duduk di selembar tikar yang digelar oleh penjual durian, ditemani pendar lampu petromaks yang menerangi sedikit sisi dari puluhan durian yang bertumpuk di bak terbuka mobil pick-up. Aku yang masih kecil, rela terkantuk-kantuk sambil menikmati durian. Bagiku, Itu memang kenangan paling membekas tentang durian.

Lalu ada kenangan lain saat Tanteku mengirimi kami durian-durian Bangkok. Besar-besar dan menggiurkan. Saat itu, durian-durian Bangkok amat jarang kami temui di Jogja. Atau aku yang kurang perhatian?

Entahlah. Yang jelas, aku yang waktu itu masih duduk di bangku SD sangat gembira. Mungkin karena terbawa suasana juga.

Malam itu, kami sekeluarga berkumpul di ruang keluarga dan 'membongkar' durian yang istimewa itu. Dagingnya teramat tebal, dan terasa manis. Lezat. Memakan satu pongge telah mampu membuatku terpekur kekenyangan. Padahal, sewaktu SD aku termasuk anak rakus. Biasanya aku melahap paling sedikit tiga pongge durian lokal setiap kali makan durian.

Tapi, menurutku, sekarang kenikmatan dan pesona durian mulai memudar. Paling tidak di duniaku. Bukan karena aku tidak lagi bisa menikmati buah berdaging lezat itu, namun justru sebaliknya.

Ada durian di mana-mana.

Durian yang dulu hanya bisa kami dapatkan saat musimnya, kini tak lagi semewah itu. Kapan pun aku ingin durian, aku selalu bisa membelinya di supermarket, walaupun hanya beberapa pongge.

Durian menjadi sangat mudah untuk didapatkan. Dan menurutku, ini justru menurunkan nilainya.

Akibatnya, keluargaku (terutama bapak dan ibuku), yang notabene AMAT menyukai durian, jadi kerap sekali membeli durian. Entah kapan trend ini dimulai, setiap kali membeli durian, tak hanya satu-dua yang dibawa pulang, tapi kadang hingga empat durian.

Setelah dibuka, kalau tidak habis, pongge-pongge tadi akan dipindahkan ke dalam toples Tupperware dan disimpan di kulkas. Siap disantap kapan saja.

Alhasil, hari-hari di keluargaku seringkali dihiasi nuansa durian. Kalau tidak durian yang masih utuh, ya durian-durian Tupperware tadi. Hingga lempok.
Rumah pun dipenuhi dengan aromanya.

Setelah beberapa bulan berlangsung, aku kehilangan minatku pada durian. Tapi aku sempat ingin membangkitkan kenangan lama berburu durian. Siapa tahu bisa kembali memunculkan gairah durian dari masa kecilku. Bersama beberapa teman, aku pun melakukan perburuan ke daerah yang dikenal sebagai penghasil durian. Kalibawang, Jawa Tengah.

Deretan penjual durian memang berjejer di sepanjang jalan, menjajakan durian 'hasil kebun sendiri'. Setelah bingung sesaat, kami pun memilih dengan acak, dan membeli dari satu penjual yang memiliki tempat duduk-duduk yang paling nyaman.

Kami memilih dua durian untuk dimakan di tempat dan beberapa durian lain untuk dibawa pulang. Durian yang kami makan di tempat memang lezat. Terlebih dinikmati di tengah nuansa pedesaan. Ini menyenangkan. Lalu kami pulang dengan harapan besar terhadap durian-durian pilihan yang lain.

Tapi apa yang terjadi? Di rumah, setelah dibuka dan dicicipi, durian-durian tersebut rasanya tawar. Tidak sesedap yang kami makan di tempat.

"Iyalah. Kan durian yang enak sudah dibeli sama tengkulak. Sekarang tuh, duriannya yang enak-enak bertumpukan di Kotabaru," ucap temanku yang tidak ikut berburu.

Durian-durian yang enak sepertinya memang telah berpindah ke bak-bak mobil pick-up di kota. Hanya sedikit yang disisakan di desa itu, sekedar menjadi umpan bagi pemburu tidak berpengalaman seperti aku.

"Mending beli di Kotabaru aja, Mbak. Daripada jauh-jauh ke Kalibawang, dan dapat durian yang nggak enak," tambah ibuku.

Tengkulak durian mengoyak harapan besarku.

Aku pun tidak berhasil membangkitkan kembali kecintaanku pada durian. Aku tidak lagi punya semangat untuk berebut pongge terbesar, atau mempercepat caraku melahap satu pongge agar bisa segera menikmati pongge yang lain.

Aku juga tidak lagi menikmati berburu durian di malam hari. Memilih-milih durian di keremangan sinar petromaks. Apalagi memakannya di pinggir jalan dengan bau durian yang akan terus menempel di jari sampai aku bisa mencucinya dengan sabun.

Di mataku, durian sudah tidak seeksotis dulu.

Dan ini diperparah dengan berdirinya sebuah kios buah tepat di seberang jalan depan rumahku. Ibu penjualnya suka sekali menawarkan buah durian kepada ibuku. Diantar langsung hingga ke depan pintu rumah.

Seperti tadi pagi. Tanpa dipesan, Ibu Penjual Buah datang ke rumah dengan membawa tiga buah durian, yang langsung dibeli oleh ibuku. Dan dipindahkan ke dalam toples Tupperware.

Oh Tuhan...

4 comments:

dhiraestria dyah said...

pengen makan duren..

Anonymous said...

Hehehe... judulnya mesti diganti "merana akibat duren" hehe...
Kapan-kapan mesti nyobain duren lampung nie kayaknya... mantap hehe

bulb-mode said...

dhiraestria dyah:
Setelah bakso, lumpia, J.Co segambreng, apple pie, pizza, kamu masih pengen duren nggak? :-S

hammar:
Kalo duren lampung, seringnya yang udah jadi lempok... enak! :p

dhiraestria dyah said...

selama duriannya bisa dimakan dalam perjalanan.. lagipula nggak ada yang berlebihan kok dalam sebuah perjalanan.. hehehe...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...