Pages

Tuesday, November 23, 2010

Krisis Jati Diri: Antara Perempuan dan Wanita


Whew! Ternyata selama ini aku salah.

Ini tentang masalah wanita dan perempuan yang sejak beberapa hari yang lalu berkeliaran di otakku. Kenapa banyak gerakan PEREMPUAN yang memilih kata perempuan daripada kata wanita? Memangnya ada apa dengan kata wanita?

 
Lalu aku bertanya pada banyak orang mengenai apa bedanya perempuan dan wanita. Kebanyak orang yang rata-rata menjawab tidak tahu, atau lebih condong membela kata perempuan tanpa tahu alasan lebih jelasnya.

Alasan yang dikemukakan saat itu kebanyakan adalah bahwa kata 'wanita' berasal dari kata 'wani ditata'. Tapi ketika pertanyaannya semakin jauh, seperti dari mana asal kata 'wani ditata' itu, tidak pernah ada jawaban yang pasti.

Kenapa tidak 'wani nata', hayo?

Aku sendiri tidak bisa menerima begitu saja bahwa perempuan diberi tingkatan yang lebih tinggi dari pada wanita. Tanpa alasan yang jelas, hal tersebut hanya akan membuatku tampak seperti feminis nanggung. Seperti mereka yang sok feminis, tanpa tahu akarnya.

Begitulah, maka atas saran Dimon, aku bertanya pada Om Gugel. *Kenapa aku bisa lupa bertanya padanya?*

Om Gugel pun memberiku arah pada jawaban yang sangat keren! Sebuah tulisan Betina, Wanita, Perempuan: Telaah Semantik Leksikal, Semantik Historis, Pragmatik.

Dalam essay tersebut, benar-benar dijelaskan sejarah mengenai kata wanita dan perempuan. Tidak sekedar 'wanita: wani ditata' dan 'perempuan: per-empu-an', tapi lebih dalam lagi. Kedua kata ini tidak bisa dilepaskan dari kebudayaan dan adat yang melekat dalam bangsa Indonesia sendiri.

Menurut tulisan itu, bahasa Indonesia mengalami apa yang disebut jawanisasi atau kramanisasi di mana kulitnya merupakan bahasa Melayu yang egaliter dan ruhnya bahasa Jawa yang feodal. Memang, apabila ditelusuri, dalam kultur Jawa, perempuan diposisikan di bawah laki-laki.

Misalnya kita berbicara tentang putri keraton yang kerap menjadi panutan, seperti apa putri keraton idaman tersebut? Lemah-lembut, menurut, tidak banyak tingkah, dan mengabdi - walaupun nantinya sang raja akan mempunyai selir.

Lalu ada pula lima hal yang menandakan priyayi: kendaraan, senjata, tahta, hobi, dan... apalagi kalau bukan wanita? Itu lagi, ada priyayi tapi tak ada kelas yang setingkat untuk perempuan.

Bukan seperti perempuan masa kini yang mandiri, punya keinginannya sendiri, punya mimpi sendiri, dan memiliki jauh lebih banyak kesempatan untuk meraihnya. Perempuan seperti Roro Mendut justru dianggap tidak baik.

Benar kata Hera, kata 'wanita' mengalami proses ameliorasi (sebuah istilah yang sudah terlupakan olehku), di mana kata 'wanita' saat ini memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari dahulu. Memangnya dahulu apa?

Kata 'wanita' sendiri berawal mula dari bahasa Jawa Kuno, atau bahkan menurut beberapa pandangan itu berasal dari bahasa Sansekerta. Jadi, wajar sekali bila dibilang, kata wanita masih memiliki ruh Jawa feodal.

"Berdasarkan "Old Javanese English Dictionary" (Zoetmulder, 1982), kata wanita berarti 'yang diinginkan'. Arti 'yang dinginkan' dari wanita ini sangat relevan dibentangkan di sini. Maksudnya, jelas bahwa wanita adalah 'sesuatu yang diinginkan pria'. Wanita baru diperhitungkan karena (dan bila) bisa dimanfaatkan pria. Sudut pandangnya selalu sudut pandang "lawan mainnya", ya pria itu. Jadi, eksistensinya sebagai makhluk Tuhan menjadi nihil. Dengan demikian, kata ini berarti hanya menjadi objek (bagi lelaki) belaka. Adakah yang lebih rendah dari "hanya menjadi objek"?"
-Sudarwati dan D. Jupriono, Betina, Wanita, Perempuan: Telaah Semantik Leksikal, Semantik Historis, Pragmatik-

Sementara, kata 'perempuan' mengalami peyorasi, atau degradasi (lagi, suatu istilah yang sudah aku lupakan). Menurut tulisan tadi, kata 'perempuan' secara etimologi memiliki kedudukan yang sejajar dengan laki-laki. Kata 'perempuan' yang sering disebut berasal dari kata per-empu-an ternyata tidak salah, hanya saja dari sebelumnya data yang aku dapat tidak pernah lengkap.

Perempuan berasal dari kata empu yang berarti 'tuan', 'orang yang mahir/berkuasa', juga 'kepala', 'hulu', atau 'yang paling besar'. Perempuan juga berasal dari kata ampu, yang berarti 'sokong', 'memerintah', 'penyangga', 'penjaga keselamatan', bahkan 'wali'. Satu lagi, perempuan juga berakar dari kata empuan, atau puan, yang merupakan sapaan hormat bagi seorang perempuan. Seperti layaknya 'tuan' tapi tidak harus menjadi pasangan dari si 'tuan' itu.

Bukankah begitu?

Maka, kata 'perempuan' ini berarti seorang subyek, tapi kini terkalahkan oleh wanita - yang mengarah pada sebuah obyek.

Nah lalu, ketika lebih banyak digunakan kata 'wanita' daripada kata 'perempuan', apakah itu ada maksudnya? Sering kali, kita terpenjara karena definisi yang salah.

Seperti kataku sebelum membaca tulisan tersebut, apa salahnya menggunakan kata 'wanita'? Sekarang, aku ingin kembali bertanya, apa salahnya menggunakan kata 'perempuan'? Terlebih ketika kita sudah tahu sejarah lengkapnya.

Tapi, kembali lagi, perempuan adalah sosok yang (sangat boleh) mandiri, jadi kata apa yang mereka pilih, terserah pada pilihan mereka sendiri. Bukankah begitu?



PS: Menteri Peranan Wanita tahu tentang ini tidak ya? Hm... tapi aku bukan feminis radikal, kok. Aku feminis oportunis. I still need and adore men - as partners. :)



* Foto diambil dari sini.

2 comments:

Anonymous said...

Keren mbak hasil penataannya! sangat simpel dan kreatif heheheh...kalomikirnya pengen seperti hasilnya Nate Berkus mah ga bakal jalan-jalan proyeknya.Pengen ini itu, padahal tipikal kamar sini (kos apalagi) kan pake keramik :)) tapi warna putih itu memang bisa bikin hasilnya kelihatan rapi dan bersih plus lapang yaaa...
salam kenal...

bulb-mode said...

@ elgaayudi:
Terima kasih...terima kasih... :p Keramik sebenernya bisa diatasin pake karpet murmer, tapi ya itu dia...trus jadi males bersihinnya... :p

Btw, komennya salah post nih... :) Salam kenal juga...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...