Pages

Monday, December 24, 2007

Aih... Lautan Merkuri!

Airnya dingin sekali. Dan gelap. Kenapa juga kapal ini harus menabrak karang dan mulai tenggelam? Percuma berlari, karena yang aku temui hanyalah ujung kapal dan air laut. Yang dingin dan gelap tadi.

Kulihat orang-orang di sekitarku tidak panik. Bahkan pada saat mereka tahu kemiringan kapal terus bertambah dan air mulai membanjiri lorong-lorong kapal, mereka tetap tenang.

Aku juga heran, kenapa aku tidak sepanik seharusnya. Aku hanya tahu airnya dingin dan gelap. Tapi aku tidak panik.

Kupanggil namanya. Berkali-kali. Tapi kenapa yang datang selalu orang yang berbeda? Atau mungkin terlalu banyak orang di kapal ini yang memiliki nama yang sama? Dan aku tak lagi peduli siapa yang datang. Asalkan dia mau menolongku.

Yah, aku harus mengusir orang yang mengikutiku sejak kapal ini mulai tenggelam.

Langit bersih tanpa awan. Bulan yang bulat menyinari dek kapal. Cahayanya perak, air laut pun tampak seperti cairan merkuri. Aku masih belum panik. Bahkan ketika aku tidak melihat sosoknya di sekitarku. Aku ingin mencarinya, tapi kupikir lebih baik aku menunggu di tempat terakhir kami bertemu.

Penumpang lain terus bergerak. Lambat, tidak terburu-buru. Suasana memang ramai. Namun aku baru sadar, itu bukan ramai yang penuh nuansa ketakutan. Itu adalah keramaian yang ada di pesta-pesta.

Kemiringan kapal terus bertambah. Herannya, aku dan penumpang-penumpang lain masih berdiri tegak, walau basah kuyup. Di mana dia? Aku kembali melemparkan pandanganku kian-kemari. Mencari, dan berharap segera menemukannya.

Dingin. Untung saja tak ada angin, yang bisa membuat malam itu lebih dingin.

Lalu terdengar sirine bahaya mulai dibunyikan. Penumpang mulai panik. Aku ikut merasa kalut karena suasana itu. Tapi, sebentar. Suaranya tak seperti sirine. Kutajamkan pendengaranku.

Tetap, aku yakin itu bukan suara sirine.

Itu suara dering telepon kamarku.

"Mbak, ada Nabil lho. Cepat bangun." Terdengar suara dari ujung telepon.

Ah. Rupanya hari telah pagi. Semalam aku hanya bermimpi. Ini pasti karena buku tentang laut dan segelas coklat hangat yang kulahap semalam.

4 comments:

Anonymous said...

Ato karena kamu kecapekan karena minggu paginya poto-poto,hehehehe

bulb-mode said...

thea:
H a d u h . . . i t u m e l e l a h k a n . . . :p

dhiraestria dyah said...

aih.. seandainya kapal itu benar-benar karam, tentunya kita akan bisa ber-wreck diving untuk menjelajahinya..
ehmm.. btw, siapa yang kau tunggu itu ndie..?

bulb-mode said...

dhiraestria dyah:
Hm... aku juga nggak tau, Dhir... tau kan kadang di mimpi kita hanya 'merasa' tau tanpa sebenernya tau siapa itu? :p *filosofis*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...