Pages

Friday, January 11, 2008

Pergilah, Segera...

Aku pernah bercerita padamu tentang sebuah pantai indah di daerah Gunung Kidul. Ingat? Tapi kamu selalu tak punya waktu untuk mengunjunginya bersamaku. Yah, aku maklum. Waktumu selalu terbatas, bukan? Selalu.

Karenanya, aku lupakan saja janjiku untuk mengajakmu ke pantai itu suatu saat. Suatu hari nanti. Atau mungkin sebenarnya kamu tak begitu tertarik?

Tak kusangka, ajakanmu tadi justru berlanjut ke pantai itu. Hidupku memang sedang sangat spontan. Karenanya, aku benar-benar berdoa, di perjalanan kita kali itu tidak akan ada kejutan yang mengesalkan.

Jalanan berkelok, kanan dan kiri, naik dan turun. Hm... Sudah lama sekali kita tidak melakukan hal seperti ini ya? Aku sempat mengira kamu sudah tidak menyukainya lagi. Berkelana dan semacamnya.

Kulihat matamu sibuk merekam pemandangan di luar kaca mobil. Kamu merindukan gunung-gunung kapur itu, bukan? Mendengar cerita-ceritamu, sepertinya kamu memang merindukannya. Sekarang semua lebih indah. Kamu lihat, gunung kapur yang coklat itu telah menghijau.

Ah. Hujan tadi pagi rupanya berkah. Langit biru cerah dengan awan-awan putihnya menemani kita. Daun-daunan pun tampak hijau segar. Kamu beruntung. It's a nice weather day. Just like old times.

Aku tahu, ombak besar menyambut kita di pantai. Terlalu besar untuk bermain air. Terlalu tinggi untuk sekedar mendekat ke taman karang di ujung pasir. Aku bahkan sedikit khawatir tak dapat mengajakmu ke gubuk di atas tebing itu. Air laut yang tinggi bisa saja menenggelamkan jalan masuknya.

Tapi ternyata tidak. Kamu beruntung. Jalanannya memang terjal, tapi justru kita kan jadi bisa berolah raga. Naik, naik, dan terus naik. Menyelinap di bawah batu karang. Mendaki tanah yang berpasir. Mencoba mencari pemandangan terindah di balik karang dan semak-belukar.

"Sudah jam lima ya?" tanyamu tiba-tiba saat memanjat bebatuan karang.

Ah, begitu cepatnya waktu berlalu. Ada yang kamu khawatirkan? Beri aku waktu sedikit lebih lama. Aku jamin, kita tak akan kemalaman sampai di Jogja.

Waktu memang begitu, selalu berputar dengan cepat di saat terindahnya. Karenanya, aku yakin beberapa tahun ke depan itu waktu yang cukup cepat. Kamu akan menikmatinya.

Kamu tahu, aku sudah tidak pernah berani membayangkan ini semua. Tidak pernah lagi. Tapi sore itu, aku justru duduk di gubuk kecil, melihat pantai yang landai dengan debur ombak yang semakin kuat, di sebelahmu. Aku tahu ini hanya senja. Indah, tapi hanya sesaat.

Beribu pertanyaan melintas di otakku. Tapi aku tak berani bertanya padamu. Tentang kenapa ajakanmu begitu tiba-tiba, tentang kotamu, tentang hidupmu, tentang perasaanmu. Aku bahkan tak tahu kenapa aku masih saja bertanya-tanya segalanya tentangmu.

Padahal kamu belum berubah. Iya, kamu memang bertambah gendut sedikit. Tapi kamu masih sama. Masih melakukan semuanya dengan rapi. Dan masih saja suka menaruh uang di mana-mana. Mirip aku, setelah kupikir-pikir.

Bedanya, kamu punya dompet itu dan bukannya sebuah kotak kartu nama tipis yang hanya mampu menampung dua lembar uang. Dompet yang mirip dengan dompetmu yang hilang dulu.

"Tapi aku masih punya kertas di dalam dompet itu," ucapmu sambil membongkar dompet, mencari sehelai kertas.

Kertas yang mana?

"Kertas yang kamu kasih ke aku."

Aduh... aku terlalu banyak memberimu kertas, dulu. Aku sendiri sampai lupa kertas mana yang kamu maksud.

Sore itu, aku tak lagi menggantung senjaku. Aku menyelesaikannya.

Aku senang kamu masih ingat rencana-rencana yang pernah kita buat dulu. Yah, aku sempat mengira kamu sudah melupakannya. Termasuk pantai ini dan lampu Kubi yang pendek.

Matahari sudah menghilang. Jalanan pun mulai sepi. Hari ini benar-benar berakhir ya?

Aku tahu waktumu pun sudah habis. Untukku. Pagar hitam di depan rumahku terasa lebih dingin. Aku ingat suatu malam dulu. Malam ketika semua masih abu-abu. Mengantarmu ke mobil, mengintipmu dari balik pagar hitam itu, melihatmu tersenyum.

"Sampai ketemu lagi ya?" ucapmu sebelum pergi.

Dan kamu tersenyum lagi.

Aku tak mungkin menjawabnya. Aku hanya bisa membalas senyummu dengan tawar. Aku tak memberinya keceriaan, aku tak memberinya harapan, aku tak memberinya optimisme. Aku tak tahu apa yang bisa terjadi selama tahun-tahun itu.

Paling tidak, aku sudah berani membingkaimu.

Aku tak ingin kembali terjatuh. Hanya terseret, dan masih bisa bertahan. Akan segera kuakhiri bab ini, harus dan segera, sebelum hutan pinus itu layu.

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...