Pages

Tuesday, August 7, 2007

Karimunjawa Day Six: Tambah Satu Hari Ya?

"Dhir, kamu kangen Jogja?" tanyaku tiba-tiba, setelah mandi pagi, beberapa jam sebelum keberangkatan kami ke dermaga untuk pulang.

Dhira hanya melihatku, tak menjawab.
 
"Apa yang kamu kangenin dari Jogja? Ada nggak?" tanyaku lagi
 

Dhira masih terdiam sebentar. "Nggak tau. Kalau kamu?"
 

"Heran. Aku nggak kangen Jogja. Padahal biasanya aku gampang banget kangen Jogja."
 

Kami terdiam.
 

"Gimana kalau kita extend satu hari di sini?" Toh Kapal Muria juga akan penuh oleh pasukan Kapolda.
 

Dhira tak tampak kaget, sepertinya menunggu ajakan tersebut. "Okay!"


Akhirnya, kami pun memperpanjang liburan untuk satu hari. Dan walau barang-barang telah kami kemasi, siap untuk diangkut pulang, aku dan Dhira tak menemui kesulitan untuk mengeluarkan baju renang dan segala perlengkapannya. Kami pun, bersama Zen, segera berangkat ke Syahbandar. Kami akan ikut bersama rombongan unit selam.

Rencana mereka hari itu adalah menyelam di Pulau Menjangan Kecil dan melakukan night dive. Seperti biasa, di sekitar Pulau Menjangan Kecil, ketika alat selam dipakai semua, aku bermain snorkle bersama Zen. Dhira yang sudah menyelesaikan sertifikasi selamnya ikut bergabung bersama kami. Sementara Mbak Ika, Manto, dan Sidqi saat ini sudah tak bisa diganggu lagi.

Tak seperti sebelumnya, kali ini kami tak dapat berenang ke pantai. Air laut sedang surut dan karang-karang pun bermunculan, bersama bulu babinya.

Di akhir sore, Mas Jabrik menawariku untuk menyelam. Aku pun memasang peralatan selam secepatnya, sebelum Mas Jabrik berubah pikiran. Aku menyelam bersama Mas Jabrik. Ikan-ikan di sini lebih banyak dari di sekitar rumah apung. Ikan badut, kuda laut, ikan pari, hingga ikan ber-lipstick merah kujumpai di sana.

Namun penyelamanku kali ini tak sedalam sebelumnya. Hanya sekitar 8 meter. Selesai aku menyelam, rupanya kapal sudah mau berangkat lagi. Kami akan melakukan night dive di dermaga Pulau Menjangan Kecil. Tentu aku tak mungkin ikut menyelam. Aku hanya melihat dari atas kapal. Tapi itu sudah cukup menyenangkan.

Hingga acara night dive selesai, bulan yang seharusnya masih agak purnama belum keluar. Ini justru memberiku kesempatan untuk melihat banyak sekali bintang yang bermunculan di langit. Di tengah laut seperti ini, bintang terlihat rendah dan memenuhi langit.

Selama perjalanan pulang ke Pulau Karimunjawa, aku memilih duduk di bagian belakang kapal. Walau asap diesel tercium amat jelas dan angin cukup kencang, namun aku jadi bisa mengamati bintang lama-lama. Lagi pula, aku tak tahu kapan lagi bisa melihat langit seindah malam itu, mengingat ini adalah malam terakhir di Karimunjawa.

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...